Artikel berita dan konteks dengan sumber rujukan. Perhatikan tanggal terbit dan tanggal sumber.
Peningkatan serangan drone terhadap infrastruktur sipil di Sudan membahayakan warga dan menghambat bantuan kemanusiaan. Dalam wawancara yang diterbitkan UN News pada 3 November 2026, Koordinator Residen dan Kemanusiaan PBB di Sudan, Denise Brown, memperingatkan bahwa gangguan pasokan listrik, air, serta bahan bakar telah memukul layanan dasar. Ia mendesak masyarakat internasional membantu mengakhiri pertempuran dan menyediakan pendanaan yang sangat dibutuhkan.
Listrik padam, perawatan pasien terhenti
Menurut Brown, terdapat pola serangan drone yang intens selama beberapa pekan terakhir. Ia mengatakan serangan itu tampak menyasar infrastruktur sipil, termasuk sumber energi dan bahan bakar, yang dilindungi hukum humaniter internasional. Penilaian tentang dugaan pelanggaran tersebut disampaikannya dengan merujuk pada sasaran dan dampak serangan yang terlihat.
Brown menuturkan bahwa tim Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO berada di sebuah rumah sakit di luar Khartoum ketika listrik padam akibat serangan drone. Rumah sakit itu tidak memiliki generator maupun panel surya, sehingga perawatan 25 pasien yang membutuhkan dialisis harus dihentikan. Gangguan listrik juga berdampak pada layanan bagi perempuan yang melahirkan, anak-anak, dan pasien lainnya.
Kelangkaan bahan bakar menekan warga
Dampak serangan tidak terbatas pada fasilitas kesehatan. Brown menyebut gangguan pasokan air dan kelangkaan bahan bakar yang meluas. Di Khartoum, antrean untuk memperoleh bahan bakar membentang hingga beberapa kilometer. Di antara warga yang mengantre terdapat pengemudi tuk-tuk yang mengantar orang bekerja atau pergi ke pasar.
Para pengemudi yang bergantung pada pendapatan harian itu, menurut Brown, harus menunggu selama beberapa hari untuk mendapatkan bahan bakar sehingga tidak memperoleh penghasilan. Ia juga melaporkan serangan terhadap pasar dan lokasi pengungsian. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa dampak yang diperingatkan PBB mencakup keselamatan warga sekaligus kemampuan mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ratusan truk bantuan tertahan
Kelangkaan bahan bakar turut melumpuhkan pengiriman bantuan. Brown mengatakan ratusan truk tertahan, padahal jaringan pasokan PBB membawa makanan, produk bergizi, perlengkapan tempat tinggal, serta kebutuhan nonpangan. Tanpa bahan bakar, bantuan untuk warga yang membutuhkan makanan, anak-anak dengan malnutrisi akut berat, dan pengungsi yang memerlukan tenda tidak dapat disalurkan.
Selain kendala logistik, pekerja kemanusiaan menghadapi risiko serangan. Menurut Brown, konvoi Program Pangan Dunia atau WFP terkena serangan tujuh kali sepanjang tahun tersebut dan 20 kali dalam dua tahun terakhir, mengakibatkan korban jiwa serta hilangnya makanan. Akses menuju Dilling di Kordofan Selatan, maupun sejumlah wilayah Blue Nile, Darfur, dan Kordofan Barat, memerlukan negosiasi terus-menerus agar personel dan pasokan dapat masuk dengan aman.
Kebutuhan meningkat di tengah perang
Brown menjelaskan bahwa kekurangan curah hujan yang parah selama beberapa bulan terakhir menambah tekanan terhadap krisis yang sudah berlangsung. Di sebagian Darfur dan Kordofan, warga berpindah untuk mencari makanan. Pada saat yang sama, jutaan orang masih mengungsi akibat perang, layanan sosial dasar terganggu, dan sistem kesehatan mengalami kerusakan berat.
Mengacu pada kajian UNICEF, Brown menyebut tingkat malnutrisi akut berat telah melampaui ambang darurat di banyak wilayah, terutama daerah yang terdampak langsung oleh perang. PBB bekerja bersama organisasi nonpemerintah internasional dan nasional serta masyarakat setempat untuk menyelamatkan nyawa. Brown menekankan bahwa masyarakat lokal merupakan pihak yang pertama merespons dan terus berada di garis depan.



