Artikel berita dan konteks dengan sumber rujukan. Perhatikan tanggal terbit dan tanggal sumber.
PBB memperingatkan agar pasukan penjaga perdamaian tidak ditarik terlalu dini dari Republik Afrika Tengah ketika dampak perang Sudan meluas ke negara tersebut. Menurut UN News, kekerasan mematikan kembali meningkat di wilayah timur meskipun hampir 2.000 kombatan telah dilucuti dan tahapan pemilu terbaru berangsur diselesaikan. Dewan Keamanan PBB kini harus mempertimbangkan kondisi keamanan itu menjelang keputusan mengenai mandat misi MINUSCA.
Serangan di kawasan perbatasan
Utusan tertinggi PBB di Republik Afrika Tengah, Valentine Rugwabiza, menyoroti serangan sejumlah kelompok bersenjata terhadap Am-Dafock di perbatasan Sudan pada 30 Juni. Serangan itu menewaskan warga sipil dan anggota pasukan keamanan nasional, membuat 17.000 warga mengungsi, serta melukai enam personel penjaga perdamaian PBB.
Rugwabiza menyatakan respons cepat MINUSCA mencegah jatuhnya korban dalam jumlah lebih besar di kawasan perbatasan Chad dan Sudan. Kehadiran misi tersebut juga dinilai memungkinkan pemulihan kewenangan negara setelah kelompok bersenjata menguasai wilayah itu selama lima hari sebelum para anggotanya mundur melintasi perbatasan menuju Sudan.
Ketika Bangui berupaya memperkuat kewenangan dan melanjutkan pelucutan kelompok pemberontak, kekerasan justru bertambah di wilayah timur. Perang Sudan disebut turut mendorong ketidakstabilan dan mempersulit rencana pengurangan pasukan MINUSCA secara bertahap. Situasi di timur laut dan tenggara menjadi perhatian, terutama di sekitar lokasi pertambangan dan jalur yang biasa digunakan peternak penggembala.
Ancaman terhadap warga sipil
Di wilayah tenggara, tercatat 26 insiden serius antara Juni dan September yang dikaitkan dengan orang-orang yang diduga anggota Lord’s Resistance Army, kelompok bersenjata yang berasal dari Uganda. Laporan mengenai insiden tersebut mencakup pemerkosaan, perbudakan seksual, serta penculikan 68 warga sipil. Sekitar 40 orang yang diculik merupakan anak-anak.
Milisi Azandé Ani Kpi Gbé juga masih mengancam penduduk setempat. Meski demikian, Rugwabiza mengumumkan pembebasan tiga sandera pada Senin setelah mediasi selama beberapa bulan dengan para pemimpin lokal. Ketiganya telah ditahan sejak Desember 2025 dan salah seorang di antaranya adalah pejabat subprefektur Bambouti.
Kemajuan politik belum menjamin keamanan
Perkembangan keamanan tersebut berlawanan dengan kemajuan dalam proses perdamaian. Sejak Juli 2025, sebanyak 1.907 kombatan telah dilucuti dan didemobilisasi. Namun, reintegrasi ekonomi mereka masih sulit, sementara sebagian di antaranya tidak dapat ditemukan.
Tahapan politik juga mendekati penyelesaian. Hingga 1 Oktober, sebanyak 127 dari 177 kota telah membentuk dewan kota. Pemungutan suara yang tersisa, sebelumnya tertunda karena keterbatasan dana dan logistik, dijadwalkan berlangsung pada 25 Oktober.
Kemajuan kelembagaan belum cukup memperbaiki kehidupan masyarakat. Hampir dua juta penduduk Republik Afrika Tengah, setara 31 persen dari populasi, menghadapi kerawanan pangan akut antara April dan Agustus. Pada awal Oktober, rencana kemanusiaan PBB baru menerima pendanaan sebesar 46,6 persen.
Mandat MINUSCA dipertimbangkan
Dewan Keamanan harus memutuskan sebelum pertengahan November apakah mandat MINUSCA akan diperpanjang. Misi yang ditempatkan sejak 2014 itu telah menutup sejumlah pangkalan di wilayah yang dinilai cukup stabil dan menyerahkan sebagian tanggung jawab kepada otoritas nasional. Penilaian awal, menurut Rugwabiza, tidak menunjukkan kemerosotan keamanan besar di lokasi yang terdampak penutupan pangkalan. Namun, penataan tersebut bergantung pada patroli jarak jauh dan penguatan pasukan Republik Afrika Tengah.
Saat ini MINUSCA mempertahankan lebih dari 12.000 personel penjaga perdamaian. Rugwabiza meminta Dewan Keamanan mempertahankan jumlah pasukan dan kemampuan yang memadai selama tahap konsolidasi. Sekretaris Jenderal PBB merekomendasikan perpanjangan mandat selama satu tahun dengan tetap menjaga kemampuan militer untuk intervensi cepat.
Pandangan anggota Dewan Keamanan terbelah. Amerika Serikat telah mendorong pengurangan pasukan yang lebih besar, sementara negara-negara lain memperingatkan risiko penarikan tergesa-gesa. Setelah lebih dari satu dekade kehadiran MINUSCA, Republik Afrika Tengah memang telah memulihkan sebagian lembaga dan wilayahnya, tetapi kekerasan di kawasan perbatasan menunjukkan bahwa pencapaian tersebut masih bergantung pada dukungan internasional.



