BERITA & KONTEKS

Artikel berita dan konteks dengan sumber rujukan. Perhatikan tanggal terbit dan tanggal sumber.

Krisis kemanusiaan berkembang cepat di Kota Taiz, Yaman, setelah wilayah itu dikepung pasukan de facto Houthi yang bertempur melawan pasukan pemerintah di sepanjang pesisir barat negara tersebut. Menurut laporan UN News pada 23 Oktober 2026, lembaga-lembaga bantuan memperingatkan bahwa penutupan jalan telah menghambat masuknya pasokan sekaligus menyulitkan warga meninggalkan kota.

Akses terputus selama 20 hari

Juru bicara Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB, OCHA, Jens Laerke, mengatakan Taiz telah terputus selama 20 hari. Pertempuran membuat lembaga kemanusiaan tidak dapat memasuki kota, sedangkan penduduk juga kesulitan keluar. Akibat tertutupnya akses jalan, hanya sedikit bahan bakar, makanan, dan kebutuhan lain yang dapat mencapai wilayah tersebut.

Eskalasi antara pasukan Houthi dan pemerintah yang berbasis di Aden dimulai pada awal September. Perkembangan itu mengakhiri ketenangan relatif yang sebelumnya tercipta setelah gencatan senjata pada 2022. Pertempuran di sekitar Taiz kini tidak hanya menimbulkan persoalan keamanan, tetapi juga menghambat operasi kemanusiaan bagi penduduk yang telah menghadapi kebutuhan kronis dan mendesak.

Ratusan ribu orang tanpa bantuan

Program Pangan Dunia PBB, WFP, melaporkan lebih dari 800.000 orang di Taiz terputus dari bantuan. Jumlah tersebut mencakup 600.000 orang yang bergantung pada bantuan kemanusiaan serta 200.000 perempuan dan anak-anak. Pejabat komunikasi regional WFP, Azfar Deen, menyatakan lembaganya berupaya mendapatkan kembali akses ke Taiz sambil melanjutkan dukungan terhadap operasi yang lebih luas di Yaman.

Masalah lain yang semakin mendesak adalah menipisnya pasokan air. Menurut OCHA, sebagian besar penduduk Taiz mengandalkan air yang dikirim menggunakan truk. Penutupan jalan dan kelangkaan solar untuk mengoperasikan kendaraan membuat produksi air di kota turun sekitar setengah, sementara harga air yang diangkut truk meningkat kira-kira tiga kali lipat. Kondisi itu semakin membebani warga yang terjebak di dalam kota.

Ancaman gizi buruk pada anak

Dana Anak-Anak PBB, UNICEF, menyoroti memburuknya kelaparan di Yaman. Di Taiz, lembaga tersebut telah memeriksa lebih dari 168.000 anak sepanjang tahun ini. Hasilnya, lebih dari 52.000 anak ditemukan mengalami kekurangan gizi akut, termasuk lebih dari 11.500 anak dengan kekurangan gizi akut berat.

UNICEF telah menempatkan hampir 8.000 karton makanan terapeutik siap pakai di sejumlah lokasi di Kegubernuran Taiz. Persediaan itu diperkirakan cukup untuk mempertahankan layanan selama sekitar tiga bulan. Namun, juru bicara UNICEF Ricardo Pires menjelaskan bahwa keterbatasan akses dan gangguan jalur pasokan tetap dapat menyulitkan mitra mengangkut bantuan maupun keluarga mencapai tempat perawatan dengan aman.

Perpindahan penduduk terus bertambah

Organisasi Internasional untuk Migrasi, IOM, mencatat sekitar 258.679 orang mengungsi antara 7 Juni dan 19 Oktober 2026. Sebagian besar berada di Kegubernuran Taiz dan Lahj. Banyak keluarga dilaporkan harus berpindah berulang kali, kemudian mencari perlindungan di lokasi pengungsian dan komunitas penerima yang kapasitasnya telah terbebani.

Dampak memburuknya keamanan juga terlihat di luar Yaman. Hingga 17 Oktober, sebanyak 3.836 warga negara Yaman tiba di Djibouti dan dilaporkan melarikan diri dari situasi keamanan yang memburuk. Laporan yang dikutip UN News juga menyebut sedikitnya 1.574 orang tewas dan 6.939 lainnya terluka dalam konflik Yaman sejak Agustus.

Sumber & bacaan lanjutan

Teruskan rasa ingin tahumu.Semua cerita di kanal ini