BERITA & KONTEKS

Artikel berita dan konteks dengan sumber rujukan. Perhatikan tanggal terbit dan tanggal sumber.

Di tengah kerusakan akibat perang, tiga perempuan di Gaza berupaya menjaga sumber penghidupan bagi keluarga mereka. UN News pada 11 Oktober 2026 mengisahkan Nidaa, Hanaa, dan Hanin, yang menempuh jalan berbeda melalui peternakan, produksi olahan susu, dan pelatihan pertukangan. Kisah mereka memperlihatkan perjuangan untuk mempertahankan usaha yang tersisa sekaligus menciptakan peluang baru.

Peternakan yang dipertahankan

Nidaa, 35 tahun, menjalankan usaha memelihara dan menjual ayam, bebek, serta kelinci di Khan Younis, Gaza selatan. Ia telah menyukai kegiatan tersebut sejak kecil dan mempelajarinya dari sang ibu. Meski memiliki latar belakang pendidikan sebagai guru, Nidaa memilih peternakan sebagai usaha untuk membantu keluarganya, termasuk dua saudara laki-laki penyandang disabilitas.

Ketika rumahnya hancur dan ia harus mengungsi selama perang, Nidaa berhasil menyelamatkan sebagian hewan dan membawanya ke Khan Younis. Ia mengenang kehilangan banyak ternak pada masa kelaparan karena harga pakan menjadi sangat mahal. Kini ia masih menghadapi persoalan tempat berlindung menjelang musim dingin, akses air aman, serta keterbatasan bahan pakan.

Melalui kemitraan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNDP dengan kamar dagang setempat, Nidaa memperoleh hibah untuk membeli hewan dan peralatan. Ia juga mengikuti pelatihan untuk memperkuat kemampuan produksi. Nidaa berharap usahanya berkembang dan dapat mendorong perempuan lain untuk menekuni peternakan.

Memulai kembali usaha keluarga

Di Kota Gaza, Hanaa, 49 tahun, merintis usaha produk susu bersama suaminya pada 2021. Dalam perang, ia kehilangan suami, seorang putra, dan bisnis tersebut. Hanaa kemudian harus menopang tiga anaknya yang masih hidup sekaligus merawat lima anak yang kehilangan kedua orang tua.

Dengan dorongan putra sulungnya, Fouad, Hanaa memutuskan menjalankan kembali usaha meski sumber daya terbatas serta susu dan bahan baku lain sangat langka. Menurut Hanaa, orang-orang yang membutuhkan dirinya turut menjadi alasan baginya untuk menemukan kekuatan dan tetap bertahan menghadapi berbagai kesulitan.

Rusaknya sistem kelistrikan Gaza menjadi masalah besar bagi produksi olahan susu. Gangguan daya dapat membuat produk rusak dan menimbulkan kerugian ketika sumber daya sudah terbatas. Dengan dukungan hibah, Hanaa kembali memproduksi keju, susu, labneh, dan laban. Ia berharap dapat mengembangkan bisnis itu menjadi fasilitas produksi yang lebih besar dan sumber pendapatan keluarga yang lebih stabil.

Pertukangan membuka jalan baru

Hanin, 36 tahun, memilih mempelajari pertukangan kayu. Dari Khan Younis selatan, ia melakukan perjalanan ke Deir al-Balah untuk menuntaskan 80 jam pelatihan kejuruan, yang dilanjutkan dengan pelatihan kewirausahaan dan penyusunan rencana bisnis.

Hanin menilai keterampilan tersebut tidak biasa, terutama bagi perempuan, tetapi semakin dibutuhkan. Persediaan kayu untuk furnitur terbatas, sementara banyak orang kehilangan perabot mereka selama perang. Baginya, kursus itu bukan sekadar pelatihan, melainkan jalan untuk memperoleh penghasilan dan kemungkinan membangun usaha sendiri.

Lebih dari 200 peserta akan memperoleh pengembangan keterampilan dalam bidang pertukangan, tekstil, daur ulang, produksi kompos, sains data, desain grafis, dan pemasaran digital. Program tersebut menunjukkan bahwa peluang penghidupan tidak hanya bergantung pada pemulihan usaha lama, tetapi juga pada pembentukan keterampilan baru.

Pemulihan memerlukan sistem pendukung

Kerusakan selama tiga tahun terakhir telah menurunkan kapasitas produksi Gaza secara berat, mengganggu pasar, dan mendorong kenaikan tajam biaya kebutuhan pokok, menurut UN News. Hampir dua juta warga Palestina juga telah mengalami pengungsian berulang sejak perang dimulai. Dalam keadaan itu, menjalankan bisnis berarti menghadapi ketidakpastian pada hampir setiap tahap.

UNDP menyatakan bahwa modal dan keterampilan penting bagi pengusaha perempuan, tetapi keberlanjutan usaha juga ditentukan oleh lingkungan pendukung. Energi dan air yang dapat diandalkan, pasar yang berfungsi, serta akses terhadap peralatan dan bahan diperlukan agar bisnis dapat bertahan dan berkembang.

Menurut UNDP, dukungan bagi usaha yang dipimpin perempuan tidak hanya menyangkut pendapatan individu. Upaya tersebut juga membantu mempertahankan kapasitas produksi lokal, menghasilkan pemasukan, dan menjaga kegiatan ekonomi tetap berada di komunitas Palestina sebagai dasar pemulihan yang digerakkan masyarakat setempat.

Sumber & bacaan lanjutan

Teruskan rasa ingin tahumu.Semua cerita di kanal ini