BERITA & KONTEKS

Artikel berita dan konteks dengan sumber rujukan. Perhatikan tanggal terbit dan tanggal sumber.

Sebanyak 69 warga Palestina kehilangan tempat tinggal pada Selasa, 6 Oktober 2026, setelah otoritas Israel menyetujui pembongkaran bangunan hunian mereka di kawasan At Tur, Yerusalem Timur. Menurut UN News yang mengutip Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB atau OCHA, lebih dari separuh warga yang terdampak adalah anak-anak. Mitra kemanusiaan telah menilai kebutuhan mendesak keluarga dan memberikan bantuan awal.

Penggusuran terbesar sejak 2009

OCHA menyatakan pembongkaran di At Tur menyebabkan jumlah pengungsi terbesar dalam satu peristiwa pembongkaran di Yerusalem Timur yang diduduki sejak pencatatan PBB dimulai pada 2009. Bangunan yang menjadi tempat tinggal mereka dibongkar setelah mendapat persetujuan dari otoritas Israel.

Keluarga terdampak mengatakan kepada PBB dan mitra kemanusiaan di lapangan bahwa pasukan Israel mencegah mereka mengambil barang-barang dari dalam bangunan. Barang milik mereka kemudian tertimbun di bawah reruntuhan. Kondisi tersebut menambah kebutuhan mendesak keluarga yang secara tiba-tiba kehilangan rumah dan perlengkapan sehari-hari.

Bantuan untuk keluarga terdampak

Mitra bantuan PBB melakukan penilaian terhadap kebutuhan segera para keluarga setelah pembongkaran. Dukungan yang diberikan mencakup bantuan biaya sewa dan sejumlah barang penting. Tim bantuan juga menyediakan tempat tinggal darurat serta dukungan psikososial bagi warga yang terdampak pembongkaran rumah di wilayah pendudukan.

Menurut OCHA, sepanjang tahun ini otoritas Israel telah membongkar atau memaksa pemilik membongkar rumah yang dihuni lebih dari 1.800 warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki dan Yerusalem Timur. Sebagian besar bangunan dibongkar karena tidak memiliki izin mendirikan bangunan yang diterbitkan Israel. OCHA menyebut izin semacam itu jarang diberikan kepada warga Palestina di wilayah-wilayah terdampak.

Layanan air Gaza menghadapi hambatan

Di Gaza, OCHA juga melaporkan bahwa dukungan air dan sanitasi terhambat oleh kekurangan pendanaan serta pembatasan masuknya pasokan penting. Barang yang dibatasi antara lain oli mesin, suku cadang, dan peralatan yang diperlukan agar kendaraan serta mesin tetap beroperasi.

Mitra kemanusiaan menyatakan kekurangan tersebut telah mengurangi produksi air di dua instalasi desalinasi di Gaza selatan karena peralatan tidak dapat dirawat dengan baik. Keadaan ini memicu penjatahan air minum bagi sekitar 500.000 orang di Deir al Balah dan Khan Younis. Di seluruh Gaza, diperkirakan tiga dari setiap empat keluarga bergantung pada air yang dikirim menggunakan truk hingga infrastruktur dapat dipulihkan sepenuhnya.

Mitra bantuan menyalurkan 25.000 meter kubik air minum setiap hari melalui 3.200 titik pengambilan. Namun, kendaraan pengangkut membutuhkan perawatan, sementara akses menuju sejumlah wilayah kerap dihentikan akibat kondisi keamanan.

Pengelolaan limbah ikut terganggu

Lembaga bantuan telah menyalurkan ribuan tempat sampah, kantong, spons, dan alat pembersih. Bantuan lain meliputi 3.000 liter sabun pencuci piring, 4.600 sarung tangan dan masker, hampir 1.300 liter pemutih, lebih dari 200 jamban, serta ratusan paket kebersihan.

Kekurangan barang yang masuknya dibatasi juga membuat kendaraan pengangkut sampah padat tidak dapat digunakan. Pengumpulan dan pemindahan limbah akhirnya mengandalkan gerobak keledai dan truk PBB. OCHA menekankan perlunya persetujuan masuk bagi barang-barang tersebut, pemulihan akses ke dua tempat pembuangan akhir di dekat batas Gaza, serta pendanaan bahan bakar yang berkelanjutan untuk mencegah penumpukan sampah di kawasan berpenduduk.

Sumber & bacaan lanjutan

Teruskan rasa ingin tahumu.Semua cerita di kanal ini