Artikel berita dan konteks dengan sumber rujukan. Perhatikan tanggal terbit dan tanggal sumber.
PBB menyatakan sangat khawatir atas meningkatnya kekerasan di Tepi Barat yang diduduki setelah Israel memberlakukan penutupan menyusul serangan mematikan di Hebron. Menurut UN News, serangan pada Jumat, 23 Oktober 2026, itu menewaskan dua tentara Israel dan kedua penyerang Palestina. Pembatasan yang kemudian diterapkan dinilai berdampak luas terhadap kehidupan warga Palestina.
Serangan dan penutupan wilayah
Menurut laporan berita yang dikutip UN News, orang-orang bersenjata melepaskan tembakan di dekat pos pemeriksaan militer di luar Hebron. Dua tentara Israel tewas dan sedikitnya lima lainnya terluka, sedangkan dua penyerang Palestina juga tewas.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan penutupan Hebron serta menjanjikan penggeledahan dari rumah ke rumah dan penghancuran rumah. Ia juga dilaporkan mengancam akan melancarkan serangan lebih luas dalam skala yang tidak terlihat sejak Perang Enam Hari. UN News mencatat bahwa pembatasan di seluruh wilayah tersebut telah diberlakukan empat kali dalam sebulan terakhir.
Juru bicara Kantor HAM PBB di Wilayah Palestina yang Diduduki, Mayy El Sheikh, mengatakan seluruh pintu masuk dan keluar Hebron ditutup setelah serangan. Masjid Ibrahimi turut ditutup sehingga warga tidak dapat menunaikan salat Jumat.
Kekhawatiran terhadap warga sipil
Dalam pengarahan di New York, Juru Bicara PBB Stéphane Dujarric menyampaikan bahwa Sekretaris Jenderal António Guterres sangat prihatin terhadap penutupan tersebut. Kekhawatiran juga mencakup laporan penghancuran rumah dan kemungkinan perpindahan warga di Hebron.
Dujarric menyatakan bahwa penutupan itu sangat membatasi kebebasan bergerak warga Palestina, akses mereka terhadap layanan dasar, dan mata pencaharian. El Sheikh menggambarkan penguncian tersebut sebagai bagian dari rangkaian tindakan yang semakin membuat kehidupan warga Palestina sulit dijalani.
Menurut El Sheikh, tindakan itu mengikuti pola hukuman kolektif ketika warga Palestina melakukan kekerasan terhadap pemukim atau tentara Israel. Ia mengatakan insiden serupa sebelumnya diikuti penguncian wilayah, peningkatan penggerebekan, dan penahanan sewenang-wenang.
Panen zaitun ikut terdampak
Pembatasan pergerakan juga terjadi ketika para petani Palestina menjalani musim panen zaitun. El Sheikh mengatakan ribuan petani telah terhalang mencapai pohon zaitun mereka. Keadaan tersebut diperkirakan menimbulkan dampak berat terhadap hasil panen musim ini.
Kantor HAM PBB mendokumentasikan lebih dari 160 serangan pemukim hanya dalam dua pekan pertama Oktober. Insiden yang dicatat meliputi penggunaan peluru tajam, pembakaran, pencurian hasil pertanian, dan perusakan kebun zaitun.
UN News juga melaporkan bahwa diplomat Uni Eropa menjadi sasaran pemukim. Sepekan sebelum laporan tersebut, seorang jurnalis foto Washington Post mengalami serangan berat oleh pemukim bertopeng ketika meliput panen di dekat Ramallah.
Seruan menghentikan kekerasan
Guterres mengecam kekerasan yang menurut PBB dipicu oleh jumlah serangan pemukim Israel terhadap warga Palestina yang mencapai rekor pada 2026. Ia mengingatkan kewajiban Israel sebagai kekuatan pendudukan untuk melindungi penduduk Palestina dari serangan semacam itu dan meminta pertanggungjawaban para pelakunya.
Selain situasi di Tepi Barat, Guterres tetap sangat prihatin terhadap kematian warga sipil di Gaza, termasuk anak-anak, serta pembatasan bantuan yang berat menjelang musim dingin. Ia menyerukan semua pihak segera menghentikan seluruh tindakan kekerasan, menahan diri, dan menghindari langkah yang dapat semakin meningkatkan ketegangan.



