Artikel berita dan konteks dengan sumber rujukan. Perhatikan tanggal terbit dan tanggal sumber.
Operasi Israel di Hebron, Tepi Barat, telah memaksa lebih dari 3.000 warga Palestina meninggalkan rumah mereka sejak Jumat. Menurut UN News pada 26 Oktober 2026, Kepala HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa Volker Türk menilai langkah-langkah yang diterapkan dalam operasi tersebut menimbulkan kekhawatiran serius mengenai penggunaan kekuatan yang tidak perlu dan tidak proporsional.
Ribuan warga dievakuasi
Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB atau OCHA menyatakan para mitra kemanusiaan membantu pemerintah setempat di Hebron memenuhi kebutuhan lebih dari 3.000 orang yang dievakuasi oleh pasukan Israel. Perpindahan tersebut terjadi menjelang pemilihan umum Israel.
Operasi dimulai setelah dua pria bersenjata Palestina menembaki pos pemeriksaan militer Israel di dekat Hebron pada Jumat. Serangan itu menewaskan dua tentara dan melukai tiga lainnya. Kedua pelaku juga tewas.
Türk mengatakan operasi Israel telah menghancurkan rumah dan properti komersial serta membatasi kebebasan bergerak penduduk. Menurutnya, penguncian wilayah membuat banyak orang hanya dapat bertahan di rumah dan lingkungan terdekat mereka.
Peringatan mengenai hukuman kolektif
Türk menyerukan agar langkah-langkah yang dinilainya menyeluruh dan tidak proporsional segera dihentikan. Ia menyatakan bahwa pernyataan sejumlah pejabat senior Pemerintah Israel menunjukkan tindakan tersebut bersifat menghukum dan dirancang untuk menanamkan rasa takut. Penilaian itu merupakan pernyataan kepala HAM PBB mengenai pelaksanaan operasi di Hebron.
Ia meminta seluruh warga yang terusir diizinkan kembali ke rumah. Türk juga menyerukan agar Israel memastikan kompensasi dan pemulihan bagi penggusuran serta penghancuran yang melanggar hukum, termasuk dampak perpindahan yang ditimbulkannya.
Menurut Türk, hukuman kolektif merupakan pelanggaran berat terhadap hukum internasional. Ia memperingatkan bahwa ancaman untuk mengosongkan dan menghapus seluruh lingkungan juga memunculkan kekhawatiran serius mengenai pembersihan etnis.
Kekerasan meluas di Tepi Barat
OCHA melaporkan bahwa PBB dan mitra kemanusiaannya menanggapi perpindahan baru, baik di Tepi Barat maupun Gaza. Di Tepi Barat, serangan pemukim berlanjut sepanjang akhir pekan dan mengganggu kegiatan panen zaitun warga Palestina.
Sejak awal 2026, OCHA mencatat lebih dari 2.000 serangan pemukim yang menyebabkan korban atau kerusakan properti. Jumlah tersebut, menurut badan kemanusiaan PBB itu, lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dalam catatan yang tersedia.
Situasi kemanusiaan di Gaza
Di Gaza, mitra kemanusiaan memperingatkan bahwa keluarga Palestina di sekitar garis yang disebut sebagai “garis kuning” masih menghadapi laporan serangan pembakaran. OCHA menyebut blok penanda baru terlihat di Ash Shuja’iyyeh dan sebagian Deir al Balah. Sejak Jumat, sebuah lokasi PBB di Deir al Balah juga dilaporkan ditembaki, disertai tiga insiden penembakan terpisah di sekitar tiga sekolah PBB dan dekat sebuah konvoi PBB.
Tim PBB yang mengunjungi Ash Shuja’iyyeh di Kota Gaza mengidentifikasi sedikitnya sembilan keluarga kehilangan tempat berlindung setelah tenda-tenda dibakar pada Minggu malam. Insiden itu menyusul kebakaran lain di lokasi yang sama pada pekan sebelumnya, yang memicu perpindahan sekitar 200 keluarga.
Pada hari yang sama, komisi penyelidikan independen yang dibentuk Dewan HAM PBB menyampaikan laporan kepada Majelis Umum PBB. Komisi tersebut menuduh Israel melakukan kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan terus melakukan genosida di Gaza. Israel menolak temuan itu dan menyebut laporan tersebut sebagai bagian dari kampanye informasi keliru untuk mendemonisasi negaranya.



