BERITA & KONTEKS

Artikel berita dan konteks dengan sumber rujukan. Perhatikan tanggal terbit dan tanggal sumber.

Keluarga-keluarga di Gaza bersiap menghadapi musim dingin keempat di tengah kondisi tenda dan tempat perlindungan sementara yang terus memburuk. Menurut UN News, bantuan kemanusiaan masih masuk dalam jumlah terbatas, sementara operasi Perserikatan Bangsa-Bangsa menghadapi hambatan transportasi, kekurangan dana, dan insiden keamanan yang mengancam petugasnya.

Tenda memburuk dan ancaman banjir

Banyak keluarga di Gaza tinggal di tenda serta tempat perlindungan yang hanya memberikan sedikit perlindungan dari udara dingin, angin, dan hujan. Sebuah penilaian mengenai kondisi tempat berlindung menemukan sekitar 950.000 orang berada di lokasi pengungsian dengan risiko banjir pada tingkat sedang hingga tinggi.

Persediaan untuk membantu penduduk menghadapi kondisi tersebut juga dinilai belum mencukupi. Situasi ini membuat datangnya musim dingin menjadi ancaman tambahan bagi keluarga yang telah lama hidup dalam pengungsian dan bergantung pada bantuan kemanusiaan.

Operasi bantuan menghadapi hambatan

UN News melaporkan bahwa transportasi bantuan dihentikan pada Selasa setelah Israel menutup perlintasan utama Kerem Shalom untuk hari pemilihan. Penutupan itu menambah kendala terhadap operasi bantuan PBB yang sebelumnya telah dibatasi oleh berbagai pembatasan dan kekurangan pendanaan.

Meski demikian, PBB dan para mitranya tetap membawa pasokan terbatas ke Gaza. Menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan atau OCHA, tim PBB pada Senin memasukkan makanan, selimut, pakaian musim dingin, perlengkapan sekolah, dan bahan bakar.

Dalam satu pekan terakhir, para mitra juga membagikan tas sekolah kepada lebih dari 8.000 anak. Sepekan sebelumnya, alat tulis diberikan kepada sekitar 22.000 anak laki-laki dan perempuan. Sekitar 300 ruang kelas turut dilengkapi untuk mendukung kegiatan belajar bagi sekitar 60.000 anak.

Keselamatan petugas kemanusiaan

Badan layanan proyek PBB, UNOPS, mencatat tiga insiden yang berdampak terhadap konvoi dan fasilitasnya selama tiga hari berturut-turut dalam sepekan terakhir. Direktur Eksekutif UNOPS Jorge Moreira da Silva menyebut insiden tersebut mencakup ledakan dalam jarak dekat, penahanan pengemudi di pos pemeriksaan, serta sejumlah peluru senjata ringan yang mengenai salah satu wisma badan tersebut.

Moreira da Silva menyatakan keselamatan staf UNOPS telah terlalu sering terganggu. Ia menegaskan bahwa seluruh pihak dalam pertempuran di Gaza wajib menjalankan kewajiban untuk melindungi warga sipil dan personel kemanusiaan.

Tekanan terhadap media dan situasi Tepi Barat

Pelapor Khusus PBB Francesca Albanese, dalam pemaparan virtual mengenai laporan terbarunya yang berfokus pada media, menyebut hampir 300 jurnalis dan pekerja media telah terbunuh di Gaza berdasarkan sumber PBB. Lebih dari 100 orang disebut telah ditahan, dan banyak di antaranya mengalami penyiksaan. Ia juga mengatakan sekitar 150 pusat dan kantor media, atau 80 persen infrastruktur media Gaza, telah dihancurkan.

Albanese mengkritik larangan Israel terhadap masuknya jurnalis asing ke Gaza. Namun, laporannya juga mendokumentasikan intimidasi dan penindasan terhadap jurnalis Palestina oleh Hamas di Gaza serta Otoritas Palestina di Tepi Barat.

Pada saat yang sama, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyatakan kekhawatiran mendalam atas meningkatnya kekerasan di Tepi Barat ketika operasi Israel di Hebron berlanjut. OCHA mencatat bahwa dari Januari 2025 hingga akhir September 2026, sebanyak 331 warga Palestina, termasuk 77 anak, dan 21 warga Israel terbunuh di Tepi Barat. Lebih dari 42.000 warga Palestina mengungsi, sementara 3.684 serangan pemukim Israel menyebabkan korban atau kerusakan properti.

Sumber & bacaan lanjutan

Teruskan rasa ingin tahumu.Semua cerita di kanal ini