Artikel berita dan konteks dengan sumber rujukan. Perhatikan tanggal terbit dan tanggal sumber.
Pentagon menyelidiki kerusakan misterius pada mesin pendingin di sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat yang terjadi pada akhir Agustus 2026. Gangguan tersebut merusak stok makanan di sedikitnya enam commissary, yakni toko bahan makanan bagi personel di dalam markas militer. Menurut laporan CNBC Indonesia dan Kompas.com yang mengutip Reuters, empat pejabat terkait menyebut serangan siber sebagai salah satu dugaan penyebabnya.
Suhu naik pada malam hari
Commissary yang terdampak berada di pangkalan Angkatan Darat, Angkatan Udara, dan Angkatan Laut AS. Lokasinya tersebar di Arizona, California, Wyoming, Mississippi, dan Rhode Island. Selama gangguan berlangsung, toko tidak dapat menjual daging, susu, sayuran, serta makanan beku, tetapi masih melayani penjualan barang kering.
Di setidaknya satu pangkalan, mesin pendingin bukan sekadar berhenti bekerja. Suhunya justru meningkat pada malam hari sehingga makanan menjadi layu, mencair, dan tidak layak dikonsumsi pada pagi berikutnya. Pengelola Fort Huachuca di Arizona mengungkapkan melalui akun resmi pangkalan pada 26 Agustus bahwa freezer memasuki mode pencairan bunga es dan memanaskan makanan di dalamnya.
Unit siber ikut menyelidiki
Kompas.com melaporkan Pentagon menangani rangkaian kerusakan tersebut sebagai dugaan peretasan. Namun, belum diketahui sejauh mana penyelidikan telah berjalan maupun pihak yang mungkin bertanggung jawab. Satu unit Cyber Command atau pasukan siber militer AS telah dilibatkan dan bekerja sama dengan lembaga pemerintah serta aparat penegak hukum.
Departemen Investigasi Kriminal Angkatan Darat AS juga menyatakan kantor lapangan sibernya turut menyelidiki. Perwakilan Pentagon tidak memberikan perincian lebih jauh, tetapi menyebut adanya kerja sama dengan mitra antarlembaga dan penegak hukum. Insiden di pangkalan AS pertama kali dilaporkan sebuah blog pada 28 Agustus, kemudian diberitakan media lainnya.
Kemiripan dengan kejadian di Perancis
Penyidik militer AS telah berkomunikasi dengan penyidik Perancis untuk membahas gangguan serupa yang terjadi pada mesin pendingin supermarket pada awal Oktober. Dalam kejadian di Perancis, kendali suhu lemari pendingin di lebih dari 350 lokasi usaha diambil alih. Suhu tidak hanya dinaikkan hingga merusak makanan, tetapi pada beberapa unit menjadi cukup tinggi hingga memicu kebakaran.
CNBC Indonesia melaporkan kerugian akibat kejadian di Perancis diperkirakan mencapai puluhan juta euro. Kedutaan Besar Perancis di Washington tidak memberikan komentar mengenai perkara tersebut. Belum diketahui apakah gangguan di Perancis dan kerusakan pada pangkalan militer AS berkaitan atau dilakukan oleh pihak yang sama.
Risiko perangkat yang terhubung internet
Perusahaan Denmark, Danfoss, menyatakan banyak perangkat pendingin yang diserang di Perancis telah berusia lama dan masih memakai perangkat lunak lawas. Keadaan tersebut dinilai memudahkan pembobolan. Meski demikian, belum diketahui apakah pangkalan militer AS menggunakan perangkat dari perusahaan yang sama.
Bill Moore dari perusahaan keamanan siber industri Xona Systems menyoroti semakin banyaknya sistem pendingin modern yang terhubung dengan internet. Menurutnya, pengontrol perangkat tersebut pada awalnya dirancang sebagai antarmuka terisolasi yang dioperasikan teknisi secara langsung di lokasi. Gangguan terhadap sistem semacam ini dinilai dapat memengaruhi rantai pasokan makanan, terutama ketika perubahan suhu tidak segera terdeteksi.


