Cerita ini adalah karya fiksi dengan ilustrasi AI. Tokoh dan penemuannya merupakan rekaan.
Cerita ini sepenuhnya fiksi. Di Kampung Teluk Luma, setiap keluarga menyimpan sebuah kunci kayu yang tidak cocok dengan pintu mana pun. Menurut cerita turun-temurun, kunci itu milik rumah di Pulau Nemeru, sebuah pulau yang tenggelam dan kembali ke permukaan setiap seratus tahun. Nara selalu menganggapnya dongeng, sampai suatu pagi kunci milik neneknya mengeluarkan bunyi seperti sendok mengetuk gelas.
Kunci yang Menunjuk Laut
Bunyi itu berhenti ketika Nara menghadap daratan dan terdengar lagi ketika ia menoleh ke teluk. Di dermaga, Jalu sedang menguji kapal selam kecil buatannya, Si Tempurung, yang memiliki dua kursi dan jendela bundar. Ketika Nara mendekat, jarum penunjuk arah di kapal berputar menuju tempat yang sama dengan ujung kuncinya. Mereka saling berpandangan. Sebelum berangkat, Nara meninggalkan pesan untuk neneknya dan memasang tali penanda pada pelampung kapal. Mereka sepakat kembali sebelum lampu cadangan menyala.
Di bawah permukaan, kunci itu memancarkan garis tipis berwarna kuning. Jalu mengarahkan Si Tempurung mengikutinya, melewati lengkungan batu hingga tampak sebuah menara lonceng. Atap-atap rumah mengelilinginya, lengkap dengan pagar, bangku, dan jalan setapak yang berakhir di pasir. Semuanya terikat oleh akar bening yang menjulur ke bawah pulau. Namun, yang paling mengejutkan bukanlah pemandangan tersebut. Di jendela menara, seseorang sedang melambaikan saputangan merah, seolah kedatangan mereka sudah lama dinantikan.
Penjaga di Dalam Menara
Orang itu seorang anak lelaki bernama Ranu. Ia menyambut mereka melalui ruang masuk berkubah yang menyimpan udara, lalu membawa keduanya menaiki tangga menara. Ranu menjelaskan bahwa keluarganya memilih tinggal saat Nemeru terakhir tenggelam. Di pulau itu, waktu bergerak mengikuti lonceng: seratus tahun di permukaan hanya terasa seperti satu tahun bagi penghuninya. Kini semua orang sedang menyiapkan kepulangan. Ada yang merapikan kebun, ada pula yang membungkus hadiah untuk keturunan saudara mereka di daratan.
Akan tetapi, lonceng belum berbunyi. Di lantai menara terdapat peta pulau dengan dua belas lingkaran kecil. Sebelas menyala, sedangkan satu di dekat kebun tetap gelap. Ranu menunjukkan tulisan pada bingkainya: setiap rumah harus mengembalikan sesuatu yang dipinjam sebelum pulau dapat naik. Nara menggenggam kunci neneknya, mengira benda itulah yang kurang. Namun, ketika kunci diletakkan pada peta, garis kuningnya justru menunjuk ke sebuah tangga sempit yang menurun jauh melewati fondasi menara.
Pintu yang Tersangkut
Mereka kembali ke Si Tempurung dan mengikuti lorong di bawah kebun. Di ujungnya berdiri pintu bundar sebesar roda kapal, tertahan sebuah peti kecil. Air mengalir melewati celah pintu dan menarik akar-akar bening ke satu sisi. Ranu mengenali peti itu sebagai milik pembuat mainan yang dahulu bekerja di kebun. Dengan lengan penjepit kapal, Jalu mencoba menariknya. Peti tidak bergerak. Lebih buruk lagi, tarikan tersebut membuat seutas akar meregang, dan lampu pada peta kecil yang dibawa Ranu mulai berkedip.
Nara meminta Jalu berhenti. Melalui jendela, ia melihat tali peti melilit engsel pintu. Menariknya lebih keras hanya akan mengencangkan simpul. Mereka memutar kapal untuk melihat sisi lain dan menemukan pengunci berbentuk rumah, persis kepala kunci neneknya. Jalu menempatkan kunci pada penjepit, lalu memutarnya perlahan. Sebuah panel terbuka, memperlihatkan tuas pelepas engsel. Begitu tuas ditekan, pintu bergeser sedikit dan tali mengendur. Peti akhirnya dapat diangkat tanpa menyentuh akar yang menahan pulau.
Satu Hari di Permukaan
Di dalam peti terdapat perahu mainan dan secarik pesan: Untuk cucuku di seberang, bila jalan pulang terbuka lagi. Ranu menunduk. Ia mengaku pernah menemukan peti itu saat bermain, lalu menyembunyikannya karena ingin memiliki perahunya. Ketika hendak mengambilnya kembali, peti sudah terseret ke engsel. Nara tidak memarahinya. Mereka membawa peti kepada pembuat mainan, yang ternyata masih menunggu di kebun. Setelah Ranu meminta maaf dan menyerahkannya, lingkaran terakhir pada peta menyala. Pintu bundar pun menutup, dan lonceng menara akhirnya terdengar.
Nemeru naik perlahan, membawa Si Tempurung dalam kolam kecil di tengah alun-alun. Saat atap menara menembus permukaan, penduduk Teluk Luma sudah menunggu dengan perahu. Nenek Nara mengenali ukiran pada peti: tanda milik kakeknya, si pembuat mainan. Hari itu, dua keluarga yang terpisah waktu duduk bersama di kebun. Menjelang petang, lonceng memanggil para tamu pulang karena pulau akan tenggelam lagi. Nara menyerahkan kembali kunci kepada neneknya, sementara Ranu memberinya sebuah perahu baru. Di layarnya tertulis janji sederhana: Sampai bertemu, meskipun tidak harus menunggu.
