Cerita ini adalah karya fiksi dengan ilustrasi AI. Tokoh dan penemuannya merupakan rekaan.
Cerita ini sepenuhnya fiksi. Nara, seorang perancang kendaraan selam muda, menerima tugas untuk menyelidiki cahaya misterius yang muncul dari palung terdalam di Laut Mirana. Bersama Bimo, sahabatnya yang ahli membaca peta, ia berangkat dengan kapal selam kecil bernama Arunika.
Sinar di Bawah Kegelapan
Perjalanan menuju palung berlangsung sunyi. Semakin dalam Arunika menyelam, warna laut perlahan menghilang dari jendela pengamatan. Lampu kendaraan hanya menerangi air gelap dan butiran lembut yang berputar seperti debu di ruangan kosong. Nara mengendalikan kemudi, sementara Bimo mengawasi peta yang dipenuhi garis patahan dan lembah sempit.
Tiba-tiba, sebuah cahaya biru muncul jauh di bawah mereka. Sinar itu berdenyut teratur, tiga kali terang lalu berhenti sejenak. Ketika Arunika mendekat, tampaklah sebuah kapal besar terbaring miring di dasar palung. Lambungnya tertutup lapisan berkilau, sedangkan tiang-tiangnya menjulang seperti menara dari kota yang terlupakan. Anehnya, cahaya berasal dari jendela-jendela kapal, seolah masih ada lentera yang menyala di dalamnya.
Bimo menemukan nama yang nyaris terhapus pada bagian buritan: Lentera Selatan. Kapal itu tidak tercantum dalam peta yang mereka bawa. Nara mengarahkan Arunika ke sebuah celah lebar di lambung kapal. Namun sebelum masuk, ia melepaskan penanda bercahaya di luar agar mereka dapat menemukan jalan pulang jika arus berubah.
Lorong yang Masih Bernyanyi
Arunika memasuki ruang kargo yang luas. Tidak ada peti maupun barang berharga, hanya deretan pipa kaca yang menjalar di dinding. Di dalam pipa, cahaya biru mengalir seperti air. Setiap kali sinarnya bergerak, terdengar nada lembut yang bergema melalui badan kapal. Nada-nada itu membentuk rangkaian pendek, kemudian berulang dari awal.
Di ujung ruang kargo, mereka menemukan pintu bundar dengan tiga lambang: ombak, bintang, dan matahari. Di bawahnya terdapat tiga tuas yang tidak mau bergerak. Bimo mendengarkan bunyi dari pipa kaca, lalu menyadari bahwa setiap nada bersamaan dengan perubahan warna lambang. Ombak menyala lebih dahulu, disusul bintang, lalu matahari. Nara menekan lambang sesuai urutan, dan ketiga tuas pun terbuka.
Mereka menarik tuas bersama-sama. Pintu bundar bergeser perlahan, memperlihatkan ruang kemudi lama yang tetap utuh. Di tengah ruangan berdiri sebuah bola bening sebesar meja. Cahaya di seluruh kapal mengalir menuju bola itu, membentuk gambar lautan, pulau-pulau kecil, dan jalur panjang berwarna keemasan.
Pesan Penjaga Laut
Pada sisi meja kemudi, Bimo menemukan keping logam berukir. Tulisan di atasnya menjelaskan bahwa Lentera Selatan dahulu membawa sebuah alat bernama Peta Cahaya. Alat itu dibuat untuk menuntun kapal melewati kabut dan arus berbahaya. Ketika badai besar menyeret kapal ke palung, para awak mengaktifkan alat tersebut sebagai penanda agar pelaut lain tidak mengikuti jalur yang sama.
Namun Peta Cahaya kini bekerja terlalu kuat. Energinya membuat lapisan batu di sekitar kapal bergetar, dan getaran kecil terus menjatuhkan serpihan dari tebing palung. Nara melihat sebuah pengatur berbentuk roda di bawah bola bening. Untuk memperlambat alat, roda itu harus diputar bersamaan dengan tiga tuas di ruang kargo. Mereka tidak mungkin melakukannya dari tempat yang sama.
Bimo kembali ke ruang kargo sambil membawa alat komunikasi. Nara tetap di kemudi dan memegang roda pengatur. Mereka menghitung bersama. Saat Bimo menarik ketiga tuas sesuai urutan nada, Nara memutar roda perlahan. Bola bening berkilau sangat terang, kemudian cahayanya mengecil menjadi satu garis keemasan yang menunjuk ke arah jalan keluar palung. Getaran batu pun berhenti.
Jalan Pulang Arunika
Ketika Arunika keluar dari kapal karam, cahaya pada jendela Lentera Selatan tidak lagi berdenyut keras. Kini hanya satu lampu biru yang menyala di puncak tiangnya. Sinar keemasan dari Peta Cahaya membentang di dasar laut, melewati celah-celah batu dan mengarah ke perairan yang lebih aman.
Dalam perjalanan naik, arus tiba-tiba mendorong Arunika ke sisi palung. Nara hampir kehilangan arah karena penanda yang mereka pasang telah tertutup endapan. Bimo segera memperhatikan garis keemasan di bawah mereka. Dengan mengikuti garis itu, mereka menemukan lorong sempit yang terlindung dari arus dan berhasil meninggalkan palung.
Setelah mencapai permukaan, Nara mencatat lokasi Lentera Selatan tanpa mengambil apa pun dari kapal tersebut. Ia dan Bimo sepakat bahwa kapal karam itu bukan tempat untuk mencari harta, melainkan peninggalan yang masih menjalankan tugas terakhirnya. Jauh di bawah laut, lampu biru terus bersinar tenang, menjaga palung sekaligus mengingatkan siapa pun yang datang agar selalu berhati-hati.
