Artikel berita dan konteks dengan sumber rujukan. Perhatikan tanggal terbit dan tanggal sumber.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa António Guterres memperingatkan bahwa perang yang meluas dan ketimpangan ekonomi saling memperkuat, dengan dampak yang dirasakan jauh dari zona pertempuran. Menurut UN News pada Kamis, 22 Oktober 2026, ia menyampaikan pandangan tersebut kepada wartawan di New York menjelang kunjungannya ke Mesir. Guterres meminta masyarakat internasional mengatasi ketimpangan dan mencegah konflik berkembang agar dunia menjadi lebih aman.
Keresahan di tengah biaya hidup
Guterres menyoroti meningkatnya ketidakpuasan publik di Eropa dan wilayah lain. Masyarakat turun ke jalan untuk menyampaikan frustrasi atas kenaikan harga pangan, bahan bakar, dan kebutuhan dasar lainnya. Kenaikan suku bunga juga membebani individu maupun negara, sementara generasi muda dinilai semakin sulit melihat harapan akan masa depan yang lebih baik.
Ia secara tegas mengecam kekerasan dan perusakan yang terjadi dalam rangkaian protes di Prancis, Italia, dan tempat lain. Menurutnya, pihak yang melakukan tindakan kriminal harus dimintai pertanggungjawaban. Namun, ia menekankan bahwa keluhan sah yang disampaikan pengunjuk rasa secara damai tidak boleh diabaikan.
Guterres mengajak dunia menghubungkan keresahan tersebut dengan gejolak internasional yang lebih luas. Pandangannya menempatkan protes jalanan bukan sebagai persoalan yang berdiri sendiri, melainkan sebagai salah satu gejala tekanan ekonomi dan sosial yang turut diperburuk oleh konflik global.
Dampak perang melampaui medan tempur
Sekjen PBB menggambarkan situasi saat ini sebagai “El Niño perang”. Perumpamaan itu merujuk pada konflik di suatu wilayah yang dapat menghasilkan gangguan luas dan memengaruhi kehidupan masyarakat hingga ribuan kilometer dari pusat krisis. Ia memperingatkan bahwa konflik kini tidak hanya meningkat intensitasnya, tetapi juga meluas dan memicu konflik lain.
Guterres menunjuk keadaan di Timur Tengah, Ukraina, dan Sudan. Di berbagai kawasan tersebut, warga sipil serta infrastruktur sipil seperti rumah, rumah sakit, sekolah, bandara, pembangkit listrik, dan fasilitas energi berada di bawah serangan. Dampaknya kemudian menjalar melalui gangguan pasar energi, pelayaran, rantai pasok, dan sistem keuangan.
Guncangan itu menghantam dunia yang sudah mengalami ketimpangan mendalam. Sebagian orang masih mampu menanggung harga yang lebih tinggi, sedangkan kelompok lain harus memilih antara membeli makanan atau memenuhi kebutuhan pemanasan. Demikian pula, sejumlah negara dapat memperoleh pinjaman lebih murah untuk melindungi masyarakatnya, sementara negara lain harus memilih antara membayar utang atau membiayai kesehatan, pendidikan, dan masa depan.
Seruan meredakan konflik Timur Tengah
Guterres menyatakan bahwa jawaban atas krisis bukanlah lingkaran konfrontasi yang terus melebar, termasuk di Timur Tengah. Ia menyampaikan kekhawatiran atas eskalasi di sekitar Taiz dan wilayah lain di Yaman, serta berlanjutnya serangan Houthi terhadap sasaran sipil di Arab Saudi. Kekerasan tersebut, menurutnya, memperbesar penderitaan warga, ketegangan regional, perpindahan penduduk, dan kebutuhan kemanusiaan. Ia menyerukan pengendalian diri dan dialog politik.
Mengenai Wilayah Palestina yang Diduduki, Guterres mengatakan Israel masih sangat membatasi bantuan penting menjelang musim dingin. Ia juga menyebut adanya kesulitan dalam pelaksanaan Rencana Komprehensif untuk Mengakhiri Konflik Gaza yang didukung Dewan Keamanan PBB. Di Tepi Barat yang diduduki, warga Palestina terus menghadapi serangan harian oleh pemukim Israel, sementara jurnalis dan diplomat juga mengalami serangan.
Guterres meminta negara donor meningkatkan kontribusi kepada Program Pangan Dunia PBB. Lembaga itu membutuhkan 450 juta dolar untuk operasi di Gaza dan Tepi Barat selama enam bulan berikutnya. Ia kembali menegaskan perlunya solusi dua negara bagi Israel dan Palestina.
Diplomasi dan perlindungan warga
Dalam kunjungannya ke Mesir, Guterres mengatakan pesannya akan berpusat pada upaya menghentikan perluasan perang, melindungi warga sipil, dan membuka ruang politik bagi diplomasi serta perdamaian. Pendekatan tersebut dipandang penting karena konflik menguras sumber daya pembangunan sekaligus menaikkan harga dan kebutuhan kemanusiaan.
Ia menutup pernyataannya dengan menekankan bahwa masyarakat di berbagai tempat menginginkan keamanan, martabat, serta pemerintahan dan lembaga internasional yang mampu memberikan hasil. Untuk menjawab tuntutan itu, dunia perlu menangani ketimpangan yang memecah masyarakat sekaligus menghentikan konflik yang memperbanyak penderitaan manusia.



