BERITA & KONTEKS

Artikel berita dan konteks dengan sumber rujukan. Perhatikan tanggal terbit dan tanggal sumber.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyerukan masuknya bantuan kemanusiaan dan kesehatan dalam jumlah besar ke Gaza menjelang musim dingin. Menurut laporan UN News pada Jumat, 2 Oktober 2026, keterlambatan berulang dalam pengiriman obat penyelamat nyawa, prostetik, dan perlengkapan lain dari Israel berisiko menimbulkan dampak berat bagi warga Palestina yang sangat membutuhkannya. Situasi kemanusiaan di wilayah yang dilanda perang tersebut masih dinilai sangat berat.

Akses bantuan masih terbatas

Hampir 12 bulan setelah kesepakatan gencatan senjata yang rapuh antara pejuang Hamas dan Israel, serangan udara Israel serta aktivitas militer lainnya masih berlangsung. Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB atau OCHA menyatakan kondisi kemanusiaan Gaza tetap sangat berat.

Bantuan yang telah disetujui hanya dapat dibawa ke Gaza melalui Kerem Shalom di ujung selatan wilayah tersebut. Rafah, yang juga berada di selatan, dibuka secara terbatas untuk pergerakan orang, termasuk pasien yang memerlukan perawatan medis di luar Gaza. Sementara itu, empat jalur utama lain untuk bantuan, yakni Kissufim, Gate 96, Erez, dan Erez West, masih ditutup.

Perwakilan WHO di Wilayah Palestina yang Diduduki, Dr Reinhilde Van De Weerdt, menekankan bahwa barang yang tidak menjadi prioritas atau perlengkapan yang tepat tetapi tiba terlambat tidak akan menyelamatkan nyawa. WHO meminta akses bantuan yang lancar, dapat diprediksi, dan berskala besar, serta penggunaan beberapa titik penyeberangan agar distribusi tidak bergantung pada jalur yang sangat terbatas.

Prostetik tertahan berulang kali

WHO meminta otoritas Israel mengurangi hambatan terhadap pasokan medis. Van De Weerdt menyatakan obat-obatan esensial seharusnya tidak dikategorikan sebagai barang penggunaan ganda dan kemudian dilarang atas alasan dapat dimanfaatkan oleh pejuang Hamas. Menurutnya, barang tersebut merupakan perlengkapan medis yang diterima secara global untuk menjalankan rumah sakit dan klinik.

Dalam enam bulan terakhir, satu pengiriman prostetik dan alat bantu ditolak sebanyak empat kali. WHO mengingatkan bahwa setiap penolakan berarti penundaan tambahan bagi seseorang yang telah kehilangan anggota tubuh dan sedang menunggu kesempatan untuk berjalan kembali. Pergerakan obat-obatan disebut relatif lebih baik, dengan hampir 87 persen pengiriman disetujui dan sedikit lebih dari satu persen ditolak.

Badan-badan bantuan PBB tetap memberikan pertolongan penting kepada keluarga di berbagai bagian Gaza dengan koordinasi bersama otoritas Israel. Namun, pekerjaan tersebut terhambat karena akses yang tersedia belum dapat diandalkan dan sering tidak tepat waktu. WHO juga menyoroti tenaga kesehatan Gaza yang tetap mengambil risiko besar untuk menolong orang lain meskipun pasokan yang tiba terlalu sedikit dan banyak pasien belum memperoleh perawatan yang dibutuhkan.

Ancaman kesehatan saat musim dingin

WHO memperingatkan keadaan dapat memburuk setelah musim gugur berakhir. Hampir dua juta orang membutuhkan tempat berlindung untuk menghadapi hawa dingin dan risiko banjir. Kondisi itu tidak hanya mengancam kesehatan dan keselamatan, tetapi juga martabat warga yang terdampak.

Seperti pada musim dingin sebelumnya, penduduk Gaza diperkirakan menghadapi peningkatan risiko wabah penyakit yang sebenarnya dapat dicegah. Faktor pendorongnya mencakup ketiadaan tempat berlindung yang aman, kekurangan air bersih, serta banyaknya tikus yang dapat menularkan infeksi melalui gigitan. Hancurnya laboratorium kesehatan masyarakat turut mempersulit upaya mengenali kemungkinan epidemi.

Sampah dan amunisi belum tertangani

OCHA sebelumnya memperingatkan adanya risiko kesehatan masyarakat yang serius akibat penumpukan limbah padat di pusat Kota Gaza. Perbaikan sanitasi yang sempat dicapai masih rapuh karena akses terhadap alat berat dan perlengkapan belum dapat diandalkan. Minyak mesin, suku cadang, serta pendanaan bahan bakar yang berkelanjutan juga diperlukan agar peralatan tetap berfungsi.

Pada saat yang sama, mitra penanganan ranjau melaporkan masih kekurangan izin dan peralatan untuk menyingkirkan bahaya amunisi yang belum meledak. Bahaya tersebut ditemukan di antara reruntuhan dalam 37 misi penilaian. Hambatan ini menambah risiko keselamatan di tengah kebutuhan kesehatan, sanitasi, dan perlindungan yang terus meningkat.

Sumber & bacaan lanjutan

Teruskan rasa ingin tahumu.Semua cerita di kanal ini