Artikel berita dan konteks dengan sumber rujukan. Perhatikan tanggal terbit dan tanggal sumber.
Musim panen zaitun tahun ini di Tepi Barat yang diduduki dimulai di tengah penggunaan peluru tajam, pembakaran, serta perusakan pohon-pohon yang telah berusia ratusan tahun. Menurut laporan UN News yang terbit pada 21 Oktober 2026, Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB mencatat sedikitnya 160 serangan pemukim Israel terkait panen selama dua pekan pertama Oktober.
Kekerasan pada awal musim panen
Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB atau OCHA melaporkan bahwa serangan-serangan tersebut kerap terjadi di bawah perlindungan atau dengan keterlibatan pasukan Israel. Selain menyerang warga, para pemukim dilaporkan merusak properti Palestina serta mengambil zaitun yang telah dipanen dan peralatan pertanian.
Pada Jumat sebelum laporan itu diterbitkan, pemukim menyerang seorang fotojurnalis The Washington Post yang sedang meliput kegiatan panen. Sehari kemudian, diplomat Eropa yang mengunjungi sebuah komunitas Palestina juga menjadi sasaran serangan. Kantor HAM PBB di Wilayah Palestina yang Diduduki atau OHCHR menyebut rangkaian kejadian itu sebagai awal musim yang mengkhawatirkan.
Petani kesulitan mencapai kebun
Ribuan petani Palestina tidak dapat menjangkau pohon zaitun mereka akibat pembatasan pergerakan Israel. Menurut OHCHR, pembatasan tersebut memburuk secara drastis dalam tiga tahun terakhir. Pada saat yang sama, para pemukim disebut diizinkan memasuki tanah milik warga Palestina untuk memanen hasilnya.
Kepala Kantor HAM PBB di Wilayah Palestina yang Diduduki, Ajith Sunghay, mengatakan warga Palestina kerap memandang pohon zaitun sebagai lambang keberadaan mereka sebagai kelompok sekaligus hubungan dengan tanah. Ia menilai gangguan terhadap panen menjadi sarana lain yang mendorong pemindahan dan perampasan hak, sehingga menambah penderitaan komunitas yang menghadapi tekanan setiap hari.
Kerugian besar sektor zaitun
Dampak terhadap sektor zaitun dilaporkan sangat berat. Kementerian Pertanian Palestina memperkirakan kerugian mencapai 157 juta dolar sejak Oktober 2023. Lembaga tersebut juga menyatakan bahwa 90 persen dari dua juta pohon zaitun di Gaza telah hancur dalam kurun waktu itu.
Di Tepi Barat, sebanyak 286.000 pohon zaitun rusak sejak 2023 hingga akhir September 2026. Dari jumlah tersebut, 100.000 pohon mengalami kerusakan sepanjang tahun ini, bahkan sebelum musim panen dimulai. Data itu menunjukkan bahwa ancaman terhadap penghidupan petani telah berlangsung sebelum mereka memasuki masa pengumpulan hasil kebun.
Desakan perlindungan dan akuntabilitas
OHCHR meminta negara-negara dan donor tidak berhenti pada kecaman, tetapi mengambil tindakan mendesak untuk melindungi komunitas Palestina. Sunghay mengulangi seruan Protection Cluster, jaringan lebih dari 100 organisasi internasional dan nasional yang dipimpin kantornya, agar negara anggota meningkatkan kehadiran diplomatik di lapangan, terutama di komunitas berisiko tinggi selama masa panen.
Protection Cluster juga mendesak pemerintah nasional menekan Israel agar menjamin akses warga Palestina ke lahan pertanian secara aman, melindungi petani dari kekerasan dan pengusiran, memperkuat akuntabilitas, serta menghentikan perluasan pemukiman. Dalam beberapa tahun terakhir, staf badan PBB untuk pengungsi Palestina, UNRWA, turut membantu panen di Beit Surik, Biddu, dan Wadi Fukin. PBB juga mengalokasikan 750.000 dolar dari Dana Kemanusiaan pada 2024 guna mendukung petani zaitun dan menegaskan pentingnya akses tanpa hambatan ke kebun mereka.



