Cerita ini adalah karya fiksi dengan ilustrasi AI. Tokoh dan penemuannya merupakan rekaan.
Cerita fiksi ini mengikuti ekspedisi Arunika, kapal riset yang mencari sumber bunyi misterius di Palung Serandil. Pada malam tanpa bulan, radio mereka menangkap pesan terputus-putus dari Samudra Jaya, kapal survei yang dinyatakan hilang dua puluh tahun sebelumnya.
Panggilan dari kedalaman
Kapten Mira memerintahkan teknisi radio, Banu, memutar rekaman itu sekali lagi. Di antara dengung statis terdengar suara perempuan: “Ruang kendali terjebak. Oksigen menipis. Ikuti tiga dentang.” Koordinat yang menyertai pesan berada sebelas kilometer dari jalur ekspedisi. Anehnya, sinyal itu memakai kode panggilan Samudra Jaya, lengkap dengan kesalahan ketik yang tercatat dalam arsip terakhir kapal tersebut.
Arunika mengubah haluan. Sonar segera menemukan bentuk panjang yang terjepit di celah tebing bawah laut. Tiga dentang logam bergema setiap enam puluh detik, terlalu teratur untuk dianggap suara arus. Mira, Banu, dan ahli selam Dara turun dengan kapsul mini Niskala. Cahaya lampunya menyapu lambung berkarat bertuliskan SAMUDRA JAYA. Di buritannya, sebuah kabel baru menjulur menuju gua gelap.
Ruang kendali yang masih hidup
Mereka mengikuti kabel itu dan menemukan modul tekanan kecil yang ditambatkan di dalam gua. Lampu hijau berkedip pada pintunya. Setelah kode darurat dimasukkan, pintu terbuka dan seorang perempuan tua jatuh ke pelukan Dara. Namanya Lestari, operator sonar Samudra Jaya. Ia bukan terkurung selama dua puluh tahun; ia kembali diam-diam tiga minggu sebelumnya untuk menyelesaikan pencarian kakaknya, kapten kapal yang hilang bersama awak lain.
Lestari menjelaskan bahwa ia menemukan perekam pelayaran di bangkai kapal, tetapi longsoran menutup jalan pulang dan merusak pemancarnya. Pesan yang diterima Arunika merupakan rekaman darurat lama yang ia gabungkan dengan koordinat baru. Tiga dentang berasal dari palu otomatis yang dipasangnya pada dinding modul. Kini baterai cadangan tinggal sedikit, sementara retakan pada gua terus melebar.
Kejaran longsoran
Ketika mereka hendak pergi, gempa kecil mengguncang tebing. Batu-batu menutup jalur yang dilalui Niskala. Dara melihat celah sempit di atas bangkai Samudra Jaya, tetapi kapsul tidak dapat melewatinya sambil membawa modul Lestari. Mira mengambil keputusan berisiko: meninggalkan modul, memindahkan Lestari ke kapsul, lalu memakai lengan mekanis untuk mendorong puing satu per satu.
Oksigen berkurang saat mesin kapsul melawan arus lumpur. Banu mengaktifkan pemancar palu dan mengubah iramanya menjadi panduan bagi Arunika di permukaan. Tim kapal membalas melalui sonar, menunjukkan arah lorong alternatif. Beberapa meter sebelum pintu keluar, bongkah besar jatuh dan menjepit kaki pendarat Niskala. Mira melepaskan kaki itu dengan baut darurat. Kapsul miring tajam, tetapi akhirnya lolos dari gua dan mulai naik.
Pesan terakhir yang terjawab
Di dek Arunika, petugas medis menstabilkan Lestari. Perekam pelayaran yang dibawanya masih utuh. Isinya mengungkap bahwa Samudra Jaya tenggelam setelah longsoran bawah laut merusak lambung, bukan karena pemberontakan atau makhluk misterius seperti rumor yang beredar. Rekaman terakhir kapten menyebutkan bahwa semua awak telah mencoba mencapai sekoci, tetapi badai menghalangi penyelamatan.
Beberapa hari kemudian, lokasi bangkai dilaporkan kepada keluarga para awak dan otoritas maritim. Lestari menyerahkan perekam itu, lalu mengakui ekspedisi rahasianya agar tidak ada orang lain mengikuti jejak berbahaya tersebut. Sinyal berhenti karena modul di gua telah hancur oleh longsoran. Misterinya selesai: panggilan itu bukan suara hantu, melainkan usaha terakhir seorang adik untuk menemukan kebenaran dan pulang membawanya.
