Cerita ini adalah karya fiksi dengan ilustrasi AI. Tokoh dan penemuannya merupakan rekaan.
Cerita ini sepenuhnya fiksi. Pada suatu pagi berkabut, sebuah pulau kecil muncul di tengah Teluk Lazuardi setelah tersembunyi di bawah laut selama seratus tahun. Nara dan Bima berlayar ke sana untuk mencari jawaban sebelum pulau itu kembali tenggelam.
Pulau dari Balik Kabut
Penduduk Desa Karang Senja mengenal sebuah cerita lama tentang Pulau Lonceng. Konon, pulau itu hanya berada di permukaan selama tiga hari, tepat ketika seratus tahun telah berlalu. Setelah itu, bunyi lonceng akan terdengar dari bawah tanah dan seluruh daratan perlahan turun kembali ke dasar laut.
Nara, pembuat peta muda yang gemar mempelajari arus, melihat puncak menara batu di balik kabut. Bersama Bima, sahabatnya yang pandai memperbaiki peralatan selam, ia mendekati pulau dengan perahu layar kecil. Mereka membawa tabung udara, lampu kedap air, tali penunjuk jalan, serta sebuah kompas tua peninggalan keluarga Nara.
Pantai pulau itu dipenuhi pasir biru pucat. Tidak ada burung atau jejak kaki, tetapi pepohonan masih meneteskan air asin seolah baru saja bangun dari tidur panjang. Di tengah pulau berdiri gerbang batu dengan ukiran berbentuk ombak. Ketika kompas Nara diarahkan ke gerbang, jarumnya tidak menunjuk utara, melainkan berputar menuju sebuah kolam bening di antara reruntuhan.
Jalan Menuju Kota Terendam
Di dasar kolam terdapat tangga yang menurun ke celah karang. Nara dan Bima mengenakan perlengkapan selam, lalu masuk dengan hati-hati. Tangga itu membawa mereka ke lorong bawah laut yang diterangi tumbuhan kecil berwarna keemasan. Ikan-ikan mungil berenang di sepanjang dinding, seakan menunjukkan arah.
Lorong berakhir di sebuah kota berkubah yang masih utuh. Rumah-rumah batu berjajar mengelilingi alun-alun, sementara kebun karang tumbuh di atapnya. Di tengah kota berdiri menara dengan lonceng besar. Di bawah lonceng, mereka menemukan tulisan yang dapat dibaca berkat simbol-simbol pada kompas tua: Pulau akan kembali ketika Penjaga Waktu membuka pintu. Pulau akan tenggelam ketika gema terakhir kehilangan jalan.
Tiba-tiba lonceng bergetar tanpa disentuh. Gema rendah menyusuri kota, disusul arus yang membuat pasir berputar. Dari balik menara muncul seekor penyu besar dengan pola menyerupai lingkaran jam pada tempurungnya. Penyu itu tidak berbicara, tetapi mengetuk lantai tiga kali dan mengarahkan kepala ke sebuah pintu bundar yang tertutup pecahan batu. Nara memahami petunjuk itu. Ada sesuatu di balik pintu yang harus ditemukan sebelum gema terakhir berakhir.
Ruang Penjaga Waktu
Nara dan Bima bekerja bersama memindahkan batu-batu kecil. Mereka tidak mengusik karang yang tumbuh di sekitarnya. Setelah celah terbuka, Bima memasang tali agar mereka dapat menemukan jalan pulang. Di balik pintu terdapat ruang bundar dengan tujuh piringan batu. Enam piringan berputar mengikuti arus, tetapi piringan ketujuh diam karena tersangkut sepotong kerang keras.
Bima melepaskan kerang itu dengan alat kecil. Piringan ketujuh kembali bergerak, namun susunannya belum selaras. Pada dinding terlihat gambar pulau, bulan, ombak, dan lonceng. Nara menyadari bahwa gambar tersebut bukan petunjuk untuk menahan pulau di permukaan. Mekanisme itu justru menjaga agar pulau turun dan naik secara perlahan sehingga kota, tumbuhan, serta makhluk laut di sekitarnya tetap aman.
Mereka memutar piringan sesuai urutan gambar. Cahaya lembut mengalir dari lantai menuju menara, lalu lonceng berbunyi jernih. Arus yang sebelumnya liar berubah tenang. Penyu penjaga berenang mengitari mereka satu kali, kemudian menyentuh kompas Nara. Jarumnya berhenti berputar dan menunjuk ke lorong pulang.
Janji untuk Seratus Tahun
Ketika Nara dan Bima kembali ke pantai, matahari hari ketiga hampir terbenam. Tanah bergetar lembut, dan air mulai menutupi pasir biru. Mereka segera menaiki perahu. Dari kejauhan, keduanya menyaksikan pepohonan, gerbang, dan puncak menara turun perlahan tanpa gelombang besar. Bunyi lonceng terakhir terdengar seperti salam perpisahan.
Nara sempat membawa sebuah lempeng batu kecil yang terlepas dari ruang penjaga. Namun setelah memandang penyu yang muncul sebentar di permukaan, ia mengembalikan lempeng itu ke laut. Pulau Lonceng bukan tempat untuk mengambil harta. Rahasianya hanya dapat bertahan jika setiap pengunjung menjaga keseimbangan yang telah berlangsung begitu lama.
Setelah pulang, mereka menggambar peta perjalanan dan menyimpannya dalam peti kedap air. Di atasnya, Nara menulis pesan bagi penjelajah seratus tahun mendatang: Datanglah untuk belajar, bukan memiliki. Ketika malam tiba, Pulau Lonceng telah lenyap sepenuhnya, tetapi kompas tua itu masih menunjuk ke tengah teluk, menunggu waktunya kembali.
