FIKSI · AI

Cerita ini adalah karya fiksi dengan ilustrasi AI. Tokoh dan penemuannya merupakan rekaan.

Cerita ini sepenuhnya fiksi. Di tengah Laut Nirmala, sebuah pulau bernama Liruna dipercaya akan bangkit dari dasar laut setiap seratus tahun. Ketika puncaknya benar-benar terlihat menjelang senja, Nara memulai perjalanan yang telah lama dinantikan keluarganya.

Pulau di Ujung Senja

Nara tinggal di Desa Teluk Teduh bersama kakeknya, seorang pembuat perahu yang gemar mengumpulkan kisah lama. Sejak kecil, ia sering mendengar cerita mengenai Liruna, pulau berpepohonan biru yang tenggelam tanpa meninggalkan jejak. Menurut sebuah catatan warisan keluarga, pulau itu tidak musnah. Liruna hanya tertidur di dasar laut dan terbangun selama satu malam setiap seratus tahun.

Pada hari yang disebutkan dalam catatan, air laut mendadak surut dengan tenang. Jauh di balik kabut, sebentuk daratan perlahan naik. Menara batu, pucuk pepohonan, dan atap-atap bundar muncul dengan air yang mengalir dari sisinya. Kakek menyerahkan kepada Nara sebuah kompas tua berbingkai kerang. Jarumnya tidak menunjuk utara, tetapi bergerak ke arah pulau yang baru bangkit itu.

Nara berangkat menggunakan perahu kecil bersama Banu, sahabatnya yang pandai memperbaiki berbagai alat. Mereka juga membawa Luma, kendaraan selam berbentuk kapsul yang dibuat Banu dari logam ringan dan kaca tebal. Saat keduanya mendekati pantai Liruna, kompas tua memancarkan cahaya hijau. Namun pulau tersebut terus naik, membuat arus di sekelilingnya berputar seperti jalan melingkar. Mereka harus menemukan tempat berlabuh sebelum malam semakin larut.

Pesan dari Kota Sunyi

Di atas pulau, Nara dan Banu menemukan jalan berbatu yang masih bersih meskipun telah berada di bawah laut selama seabad. Tanaman biru tumbuh di antara rumah-rumah kosong. Ketika disentuh, daunnya mengeluarkan cahaya lembut yang menuntun mereka menuju menara di tengah pulau. Tidak ada penghuni yang terlihat, tetapi lonceng kecil di setiap pintu bergerak sendiri seolah menyambut kedatangan tamu.

Di dalam menara terdapat ruangan bundar dengan peta Liruna terukir pada lantainya. Sebuah sosok bening menyerupai anak perempuan muncul dari dinding air di tengah ruangan. Ia memperkenalkan diri sebagai Sela, penjaga ingatan pulau. Sela menjelaskan bahwa dahulu para penghuni Liruna membuat Jantung Pasang, sebuah batu bercahaya yang menjaga pulau tetap terapung. Saat batu itu retak, mereka memilih menenggelamkan pulau agar gelombangnya tidak mengganggu tempat lain.

Setiap seratus tahun, Liruna naik untuk mengumpulkan cahaya bulan dan memperbaiki Jantung Pasang. Namun kali ini, salah satu pecahannya hilang di sebuah lembah bawah laut. Tanpa pecahan itu, pulau tidak akan dapat turun dengan aman ketika fajar tiba. Nara menyadari bahwa kompas warisan keluarganya menyimpan pecahan tersebut. Akan tetapi, cahaya kompas menunjukkan masih ada satu bagian lain yang harus ditemukan di dasar laut.

Lembah di Bawah Ombak

Nara dan Banu segera kembali ke pantai lalu memasuki Luma. Mereka menyelam mengikuti sinar kompas melalui lengkungan batu dan taman karang berwarna pucat. Di kejauhan, bayangan Liruna tampak seperti gunung besar yang melayang di antara permukaan dan dasar laut. Waktu mereka tidak banyak karena garis pertama cahaya fajar mulai terlihat di atas air.

Kompas membawa mereka ke lembah yang dipenuhi gelembung bercahaya. Pecahan Jantung Pasang terjepit di dalam cangkang raksasa yang tertutup rapat. Banu mencoba membukanya dengan alat, tetapi cangkang itu justru mengatup semakin kuat. Nara kemudian memperhatikan pola pada permukaannya, sama seperti pola lonceng di pintu-pintu kota. Ia mengetukkan irama sambutan yang tadi didengarnya. Perlahan, cangkang terbuka dan memperlihatkan batu kecil berwarna keemasan.

Ketika Nara mengambilnya, arus kuat mendorong Luma ke dinding lembah. Banu menyalakan baling-baling cadangan, tetapi kendaraan itu hanya bergerak sedikit. Nara memasukkan kedua pecahan ke dalam kompas. Cahaya hijau dan keemasan menyatu, membentuk jalur terang di antara arus. Dengan mengikuti jalur tersebut, Banu berhasil membawa Luma kembali menuju permukaan dan mencapai menara sebelum matahari terbit.

Janji Seratus Tahun

Sela menempatkan kedua pecahan ke dalam Jantung Pasang. Retakan pada batu besar itu menutup, lalu cahaya menyebar melalui jalan, rumah, dan pepohonan Liruna. Dari balik pintu-pintu, muncul bayangan para penghuni lama. Mereka bukan orang yang terperangkap, melainkan kenangan yang disimpan pulau agar kisah mereka tidak hilang. Seluruh lonceng berbunyi bersama dalam nada yang hangat.

Liruna mulai turun perlahan. Nara dan Banu bergegas menuju perahu, sementara Sela berdiri di pantai sambil tersenyum. Ia berjanji akan menjaga pulau hingga kemunculan berikutnya. Sebelum air menutupi menara, Sela memberikan sebuah benih biru kepada Nara dan berpesan agar kisah Liruna diteruskan, bukan sebagai peringatan yang menakutkan, melainkan sebagai pengingat bahwa pengetahuan harus digunakan dengan bijaksana.

Saat mereka tiba di Teluk Teduh, pulau itu telah menghilang. Kakek menyambut mereka di dermaga ketika benih biru di tangan Nara mulai bercahaya. Nara menanamnya di dekat rumah. Bertahun-tahun kemudian, pohon kecil itu tetap bersinar setiap malam, seolah menghitung waktu sampai Liruna kembali bangkit seratus tahun mendatang.

Teruskan rasa ingin tahumu.Semua cerita di kanal ini