FIKSI · AI

Cerita ini adalah karya fiksi dengan ilustrasi AI. Tokoh dan penemuannya merupakan rekaan.

Cerita ini sepenuhnya fiksi. Pada malam ketika kompas kapal selam Niskala mulai menunjuk lurus ke dasar laut, Tara mendengar tiga ketukan dari balik lambung—padahal mereka berada enam ribu meter di bawah permukaan, di tempat yang menurut peta tidak pernah dilalui siapa pun.

Cahaya yang Menunjuk ke Bawah

Kapten Jendra memerintahkan mesin dihentikan. Di luar jendela observasi hanya ada kegelapan, salju laut, dan sesekali kilatan makhluk kecil. Namun sonar menangkap sebuah bentuk tinggi di bawah mereka. Bentuk itu ramping seperti menara, tetapi berdiri terbalik: fondasinya menggantung di atas, sedangkan puncaknya menancap ke jurang.

Dari ujung menara itu muncul cahaya biru yang berputar perlahan. Setiap kali sinarnya menyapu Niskala, kompas bergetar dan kapal turun beberapa meter tanpa tenaga mesin. Tara, navigator termuda dalam awak, menghitung jeda putarannya. Cahaya tersebut bukan sekadar suar; ia membentuk pola tiga pendek, satu panjang—kode marabahaya lama yang sudah tidak digunakan selama puluhan tahun.

Mereka dapat membuang pemberat darurat dan mencoba naik, tetapi arus aneh telah melingkari kapal seperti pusaran tak terlihat. Persediaan listrik hanya cukup untuk satu manuver besar. Tara mengusulkan pilihan yang terdengar gila: mendekati menara dan mencari sumber arus sebelum Niskala terseret ke jurang. Kapten menyetujuinya karena tidak ada jalan lain.

Kota Karang yang Menahan Napas

Niskala mengikuti putaran cahaya dan memasuki celah batu. Di baliknya terbentang gugusan lengkungan karang menyerupai jalan-jalan kota. Tidak ada jendela, pintu, atau patung—hanya ribuan cangkang putih tersusun pada dinding, semuanya terbuka menghadap mercusuar terbalik.

Tara dan teknisi bernama Bima keluar memakai pakaian selam bertekanan. Mereka menambatkan kabel pengaman, lalu berjalan di dasar menuju menara. Setiap langkah membangunkan gema ketukan dari cangkang-cangkang. Tiga pendek, satu panjang. Bukan suara makhluk terperangkap, melainkan getaran arus yang melewati rongga cangkang dan mengubah seluruh kota karang menjadi alat musik raksasa.

Di kaki menara, Tara menemukan roda batu dengan empat celah. Tiga celah kecil tertutup endapan hitam, sedangkan satu celah panjang masih mengalirkan air. Ketidakseimbangan itu memutar mercusuar terlalu cepat dan menciptakan pusaran yang menahan Niskala. Untuk membebaskan kapal, mereka harus membuka ketiga saluran yang tersumbat—tetapi setiap saluran mengarah makin dekat ke bibir jurang.

Penjaga dari Arus Gelap

Saat Bima membersihkan celah pertama, bayangan besar melintas di atas mereka. Bentuknya menyerupai pari, tetapi tubuhnya bening dan di sepanjang sayapnya menyala titik-titik hijau. Makhluk itu tidak menyerang. Ia justru menutup celah kedua dengan tubuhnya, seolah memperingatkan mereka agar berhenti.

Tara memperhatikan bahwa setiap kali cahaya mercusuar melemah, makhluk bening itu mengepak gelisah. Di bawah celah kedua terdapat telur-telur transparan yang menempel pada batu. Jika semua saluran dibuka sekaligus, semburan air akan menghancurkan sarang tersebut. Mercusuar bukan perangkap yang dibuat seseorang; kota karang dan makhluk penjaga telah tumbuh bersama mengikuti mesin arus alami di bawah batu.

Mereka kehabisan waktu. Kabel pengaman menegang saat Niskala mulai terseret turun. Tara memasang dua pelat logam dari kotak peralatan untuk membelokkan aliran dari sarang, lalu Bima memecahkan endapan di celah kedua dan ketiga. Arus meledak melewati roda. Mercusuar berhenti sesaat, kemudian berputar dengan irama lambat dan seimbang. Makhluk bening itu mengangkat tubuhnya, membiarkan telur-telurnya tetap aman di balik pelat.

Jalan Pulang di Antara Cahaya

Pusaran terurai. Dari radio terdengar suara Kapten Jendra memanggil mereka pulang, tetapi jalur kembali tertutup kawanan makhluk bening yang muncul dari jurang. Puluhan sayap bercahaya memenuhi kota karang. Tara mematikan lampu helm agar tidak mengejutkan mereka. Dalam gelap, sinar mercusuar menyapu dasar dan para makhluk bergerak mengikuti iramanya, membuka lorong menuju Niskala.

Begitu Tara dan Bima masuk, kapten melepaskan pemberat dan menyalakan mesin. Kapal naik melewati celah batu. Mercusuar terbalik mengecil di bawah mereka, masih mengirimkan tiga kilatan pendek dan satu panjang. Kini Tara memahami maknanya bukan sebagai permintaan pertolongan, melainkan irama yang menjaga arus, sarang, dan kota karang tetap hidup.

Niskala mencapai perairan tenang menjelang pagi. Tara menandai wilayah itu sebagai zona yang tidak boleh dimasuki, tanpa menyebut harta atau penemuan besar dalam catatan navigasi. Ia hanya menulis satu peringatan: jika kompas menunjuk ke dasar dan laut mengetuk tiga kali, jangan melawan cahayanya—dengarkan iramanya, lalu pulang tanpa mengambil apa pun.

Teruskan rasa ingin tahumu.Semua cerita di kanal ini