Artikel edukasi dengan sumber rujukan yang tercantum di bawah.
Dari malam ke malam, pola kawah dan dataran gelap di wajah Bulan tampak akrab. Kita selalu mengamati belahan yang hampir sama, sehingga mudah mengira Bulan tidak berputar. Kenyataannya justru sebaliknya: wajah yang tetap menghadap Bumi merupakan akibat dari rotasi Bulan yang sangat selaras dengan gerak orbitnya.
Berputar sambil mengelilingi Bumi
Bulan membutuhkan waktu yang sama untuk berputar satu kali pada porosnya dan menyelesaikan satu orbit mengelilingi Bumi. Keadaan ini disebut rotasi sinkron, salah satu bentuk penguncian pasang surut. Bayangkan seseorang berjalan melingkari temannya sambil terus menatap ke arah teman tersebut. Ia harus memutar tubuh satu putaran penuh selama satu keliling. Jika tidak berputar sama sekali, sisi tubuh yang menghadap pusat lingkaran akan terus berganti.
Keselarasan itu membuat belahan dekat Bulan selalu menghadap Bumi, sedangkan belahan jauhnya mengarah ke sisi lain. Namun, istilah “sisi gelap Bulan” menyesatkan. Belahan jauh bukan tempat yang selalu gelap; ia juga mengalami siang dan malam ketika Bulan bergerak terhadap Matahari. Manusia baru memperoleh pandangan langsung terhadap belahan jauh setelah wahana Soviet melintas pada 1959.
Gravitasi membentuk irama yang stabil
Menurut NASA, penguncian ini bukan kebetulan. Pada masa awalnya, Bulan berputar lebih cepat dan berada lebih dekat dengan Bumi. Tarikan gravitasi Bumi sedikit mengubah bentuk Bulan. Tonjolan akibat gaya pasang surut tidak langsung sejajar sempurna dengan Bumi ketika Bulan berputar, sehingga tarikan gravitasi menghasilkan gaya yang perlahan memperlambat rotasinya.
Proses pelenturan tersebut melepaskan energi sebagai panas. Setelah waktu yang sangat panjang, laju putaran Bulan melambat sampai satu rotasi memerlukan waktu yang sama dengan satu orbit. Dalam keadaan sinkron ini, tonjolan Bulan tidak lagi terus berpindah terhadap arah Bumi, sehingga konfigurasi menjadi stabil. Penguncian serupa juga umum terjadi pada satelit besar lain di Tata Surya.
Apakah kita benar-benar hanya melihat separuh?
Ungkapan “selalu melihat sisi yang sama” adalah penyederhanaan yang berguna. Orbit Bulan tidak berbentuk lingkaran sempurna, sementara sumbu dan bidang orbitnya memiliki kemiringan. Akibat gerak kecil yang disebut librasi, Bulan tampak sedikit mengangguk dan bergoyang. Dari waktu ke waktu, pengamat di Bumi dapat mengintip sedikit melewati tepi timur, barat, utara, dan selatannya.
Meski demikian, librasi tidak membatalkan prinsip dasarnya. Sebagian besar belahan jauh tetap tidak pernah menghadap langsung ke Bumi dan baru dapat dipetakan dengan wahana antariksa. Jadi, pemandangan Bulan yang terasa tetap sebenarnya adalah jejak hubungan gravitasi yang telah menyelaraskan putaran dan orbit dua dunia selama miliaran tahun.



