Artikel edukasi dengan sumber rujukan yang tercantum di bawah.
Sekumpulan bintang berkilauan dalam citra Teleskop Antariksa Hubble bukan sekadar pemandangan indah. Objek bernama Messier 30, atau M30, itu membantu astronom menelusuri masa lalu Bima Sakti. Berjarak sekitar 27.500 tahun cahaya di rasi Capricornus, gugus ini menyimpan petunjuk melalui sifat bintang-bintangnya dan arah geraknya mengelilingi galaksi.
Kumpulan bintang yang sangat tua
M30, yang juga disebut NGC 7099, merupakan gugus bola: kumpulan bintang berbentuk kurang lebih bulat yang dapat beranggotakan puluhan ribu hingga jutaan bintang. Gugus seperti ini umumnya berada di kawasan luar galaksi, mengorbit dalam wilayah luas dan renggang yang disebut halo.
Bima Sakti memiliki sedikitnya 150 gugus bola. Usia gugus-gugus ini diperkirakan antara 11,5 hingga 13,5 miliar tahun, sehingga sebagian hampir setua alam semesta. Gugus yang terbentuk di dalam Bima Sakti dapat menjadi semacam kapsul waktu, mempertahankan jejak komposisi kimia galaksi ketika masih muda. Karena itu, mempelajari bintang tua juga berarti mencari petunjuk tentang lingkungan tempat kelahirannya.
Arah orbit memberi petunjuk asal
Namun, berada di Bima Sakti sekarang tidak selalu berarti lahir di sana. Peneliti menemukan bahwa M30 dan banyak gugus bola lainnya mengorbit dengan arah berlawanan terhadap putaran galaksi kita. Perbedaan ini membuka kemungkinan bahwa sebagian gugus tersebut berasal dari luar Bima Sakti.
Dalam penjelasan itu, Bima Sakti mungkin menangkap gugus-gugus tersebut pada masa silam. Meski demikian, arah orbit yang berlawanan merupakan petunjuk, bukan kepastian mengenai asal setiap gugus. Justru kemungkinan inilah yang membuat pengamatan gugus bola berguna untuk menyelidiki bagaimana galaksi memperoleh sebagian penghuninya.
Warna dan gerak saling melengkapi
Citra M30 ini dibuat dari data tiga program pengamatan Hubble, mencakup cahaya ultraviolet, cahaya tampak, dan inframerah dekat. Pengamatan awal dengan Advanced Camera for Surveys menjangkau bintang bermassa hanya 20 persen massa Matahari. Program berikutnya memakai Wide Field Camera 3 dengan tiga filter yang menangkap cahaya lebih biru, menghasilkan data penting untuk mempelajari bintang eksotis yang disebut blue straggler serta beragam populasi bintang dalam satu gugus.
Pengamatan berikutnya kembali menggunakan Advanced Camera for Surveys untuk meneliti pergerakan populasi bintang selama 15 tahun sejak pengamatan awal Hubble. Rentang pengamatan yang panjang dan kemampuan membedakan detail sangat kecil memungkinkan perubahan posisi itu dipelajari. Berbagai panjang gelombang dan pengukuran gerak memberikan petunjuk yang saling melengkapi tentang pembentukan serta perkembangan gugus.
Mengubah pemahaman tentang posisi Matahari
Peran gugus bola dalam memahami Bima Sakti sudah berlangsung lebih dari seabad. Astronom Harlow Shapley menggunakan pengamatan jenis bintang variabel tertentu untuk mengukur lokasi dan jarak puluhan gugus bola. Hasilnya menunjukkan bahwa Matahari bukan pusat galaksi, dan pusat Bima Sakti berada ke arah rasi Sagittarius.
Pengukuran jaraknya ternyata tidak tepat, sehingga ia menyimpulkan ukuran galaksi sekitar dua kali ukuran sebenarnya. Namun, penelitiannya menunjukkan betapa pentingnya gugus bola untuk memahami susunan galaksi. Kini, Hubble meneruskan penyelidikan itu dengan menelaah bintang dan gerakannya secara lebih terperinci.



