Artikel berita dan konteks dengan sumber rujukan. Perhatikan tanggal terbit dan tanggal sumber.
Ukraina mulai memperluas pilihan teknologi komunikasi militernya setelah jaringan Starlink sempat mengalami pembatasan selama beberapa hari. Dilaporkan detikinet pada 25 Oktober 2026, koneksi tersebut kini telah kembali stabil, tetapi insiden itu mendorong Kyiv menjalin kerja sama dengan Nokia dan ICEYE.
Pembatasan koneksi telah dicabut
Kyiv selama ini mengandalkan Starlink dan versi khusus militernya, Starshield, untuk mengendalikan drone serta mendukung operasi militer lainnya. Ukraina menuduh Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah meminta pemilik Starlink, Elon Musk, memberlakukan pembatasan pada jaringan tersebut.
Pembatasan itu dilaporkan membuat drone kehilangan koneksi ketika bergerak dengan kecepatan 161 kilometer per jam atau lebih. Trump sempat membantah tuduhan tersebut, sebelum kemudian mengatakan bahwa Musk telah mengembalikan koneksi seperti semula. Menteri Pertahanan Ukraina Yevhenii Khmara menyatakan jaringan kini dapat digunakan pada kecepatan lebih dari 400 kilometer per jam, yang menunjukkan kapabilitas penuh telah dipulihkan.
Kerja sama dengan Nokia dan ICEYE
Meski layanan telah kembali stabil, Ukraina memilih mencari pilihan lain agar tidak bergantung pada satu penyedia. Kementerian Pertahanan Ukraina telah menandatangani surat pernyataan minat untuk mengembangkan kemampuan pertahanan dan komunikasi satelit baru bersama perusahaan teknologi Finlandia, Nokia, serta produsen satelit ICEYE.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan komunikasi yang dapat diandalkan merupakan persoalan keamanan nasional dalam peperangan modern. Menurutnya, setiap negara perlu memiliki kemampuan yang dapat dikendalikan sendiri. Zelenskyy juga mengumumkan kemitraan dengan Norwegia untuk mengembangkan sistem pertahanan udara dan komunikasi yang dapat menjadi alternatif bagi Starshield.
Pengganti setara belum tersedia
CEO perusahaan modal ventura Space Capital, Chad Anderson, memperkirakan alternatif tersebut mungkin baru dapat diwujudkan dalam dua hingga tiga tahun. Namun, menyamai skala Starlink diperkirakan membutuhkan waktu lebih panjang karena SpaceX memiliki sekitar 11.000 satelit di orbit.
Anderson menilai Starshield bahkan lebih sulit digantikan. Ia merujuk dokumen kontrak Pentagon yang menyebut SpaceX sebagai satu-satunya penyedia yang mampu memenuhi beberapa kebutuhan hingga 2026. Menurut Anderson, kendala utamanya bukan modal, melainkan kapasitas peluncuran. Para pesaing Starlink juga masih menggunakan layanan peluncuran SpaceX untuk menempatkan satelit mereka di orbit.
Desakan penyelidikan dan munculnya pesaing
Anggota parlemen Amerika Serikat dari kedua partai mendesak penyelidikan resmi terhadap Musk dan SpaceX atas dugaan perubahan layanan secara sepihak di Ukraina. Peneliti senior Brookings, Jay Shambaugh, menilai perubahan mendadak itu dapat memperkuat anggapan bahwa Amerika Serikat menjadi sekutu yang tidak dapat diandalkan. Ia memperingatkan kondisi tersebut dalam jangka panjang dapat memengaruhi ekspor AS ke Uni Eropa apabila negara-negara Eropa menghindari ketergantungan pada layanan yang bisa diputus sewaktu-waktu.
Sejumlah pesaing Starlink mulai berkembang, termasuk Leo milik Amazon, Eutelsat dari Prancis, dan TeraWave yang direncanakan Blue Origin. Uni Eropa juga membangun IRIS², konstelasi yang terdiri atas ratusan satelit, meski peluncuran pertamanya diperkirakan baru berlangsung pada 2029. Menurut riset Anderson, sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, investor telah menyalurkan sekitar 8 miliar dolar AS untuk mendanai alternatif Starlink dan Starshield. Dari jumlah itu, sekitar 3,9 miliar dolar AS mengalir kepada pihak yang berpotensi menjadi pesaing Starlink, terutama Spacesail dan China SatNet.


